Newest Post
Archive for 2016
KEUNTUNGAN BAGI UKM DALAM PENERAPAN SISTEM JAMINAN HALAL
UKM (Usaha Kecil Menengah) adalah sebuah bentuk usaha kecil masyarakat yang terbentuk atas inisiatif seseorang. UKM (Usaha Kecil Menegah) memegang peranan penting dalam memajukan sektor prekonomian Indonesia, selain itu UKM adalah salah satu alternatif lapangan kerja baru yang dapat mengurangi tingkat pengangguran pada masyarakat.
Untuk memulai sebuah UKM tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, atau semudah menggoyangkan tongkat peri “Bibbidi-Bobbidi-Boo” atau mungkin membuat permohonan pada “genie in a bottle”. oh tidak, karena sekarang kita tidak berada di dunia fantasi. Memulai sebuah UKM perlu usaha yang keras, niat, dan modal tentunya. Waktu yang digunakan mendapatkan hasil yang sempurna tidaklah sebentar, karena di dalam sebuah kesuksesan usaha seseorang terukir kisah yang panjang di dalamnya.
Bayak hal yang harus diperhitungkan dalam pengawalan sebuah UKM, mulai dari penentuan model usaha yang akan dijalankan, persiapan modal, tempat untuk berwirausaha, target konsumen, survey pasar, bagaimana mangemen didalamnya dan perektutan pegawai, merupakan hal-hal yang tidak bisa dipisahkan dari UKM. Setiap pengusaha pasti ingin memulai sebuah usaha dengan kejujuran dan kehalalan, karena dengan adanya rasa saling percaya antara produsen dan konsumen atau sebaliknya akan berdampak positif bagi perkembangan sebuah usaha.
Dewasa ini ketertarikan konsumen akan produk halal semakin menigkat sehingga peluang bagi produsen halal semakin menjanjikan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh tim riset halalmui.org terungkap bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia akan produk halal meningkat sangat signifikan. Jika pada tahun 2009 tingkat kepedulian masyarakat terhadap kehalalan produk hanya berkisar 70%, pada akhir 2010 angka tersebut melonjak dengan sangat gesit menjadi sekitar 92.2%.
Produk halal tak hanya menjadi sektor agama semata, seperti yang telah disyariatkan oleh pemeluk agama islam, tapi dengan adanya produk halal akan menjamin keamanan dan kesehatan, Karena semua produk yang diolah mulai dari pemilihan bahan baku yang digunaan hingga prosesnya secara halal menjanjikan unsur kesehatan didalamnya, sehingga konsumen mendapatkan ketenangan dalam mengonsumsi suatu jenis produk atau makanan dan berlebelkan Halal.
Bagi umat muslim mengkonsumsi produk halal dan thayib (baik, aman, higenis) merupakan perwujudan dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah, yang dapat memberikan ketenangan batin. Jika dikaji dari sudut pandang agama, sangat banyak firman Allah SWT yang mengharuskan mengkonsumsi produk halal, diantaranya :
"Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (QS. alBaqarah [2]: 168).
"Hai orang yang beriman! Makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah" (QS. al-Baqarah [2]: 172).
"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari yang telah Allah rezkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya" (QS. alMa'idah[5]: 88).
Indonesia merupakan negara dengan mayoristas pemeluk agama muslim terbesar, sehingga sebagian besar konsumennya akan memilih produk yang berlebelkan halal, dan secara otomatis akan meningkatkan daya saing para produsen untuk menghasilkan produk yang halal.
SEJARAH, KLASIFIKASI DAN PERKEMBANGAN INDUSTRI MAKANAN
SEJARAH
Penyelenggaraan makanan kelompok sudah dikenal sejak zaman dahulu kala. Namun penyelenggaraan makanan kelompok secara lebih profesional baru dimulai pada pertengahan abad ke-17 bersamaan dengan awal revolusi Eropa. Pada masa itu dirasakan perlu adanya usaha untuk meningkatkan produktivitas kerja para pekerja di berbagai industri. Pemberian makanan yang memenuhi syarat terbukti dapat meningkatkan produktivitas kerja para pekerja pabrik. Robert Owen adalah seorang pelopor penyelenggaraan makanan bagi pekerja industri yang dikelola secara efisien dan efektif. Inilah awal dari penyelenggaraan makanan industri (inflant food service).
Di Indonesia pada berbagai kegiatan upacara, penyajian makanan merupakan suatu kegiatan pokok, baik sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Maha Pencipta maupun sebagai ungkapan rasa hormat kepada tamu yang hadir.penyelenggaraan makanan kelompok masih bersifat bersifat keramahtamahan dan jauh dari profesional serta tujuan komersial.
Di Indonesia sejarah dan perkembangan mengenai penyelenggaraan makanan institusi masih sangat terbatas. Namun adanya pendirian institusi-institusi yang menggunakan banyak tenaga kerja seperti perkebunan yang luas, pembuatan jalan diluar kota, pembangunan jembatan yang besar, penerbangan dan perkayuan mengakibatkan pengelolanya harus memikirkan pengadaan makanan bagi buruh-buruhnya.
Penyelenggaraan makanan yang didasarkan atas kebutuhan karyawan akan zat gizi agar memperoleh tingkat kesehatan yang optimal yang memungkinkan tercapainya kerja maksimal baru dilaksanakan pada awal abad ke-20.
KLASIFIKASI
Komersial
Penyelenggaraan makanan komersial didirikan untuk umum dan beroperasi untuk mendapatkan keuntungan. Kegiatan utamanya adalah penjualan makanan. Contohnya antara lain, restoran, hotel, kios makanan di tempat rekreasi, toko makanan.
Semi Komersial
Institusi yang mengoperasikan penyelenggaraan makanan sendiri untuk melengkapi pelayanan aktivitas mereka dalam mencapai tujuan utamanya. Institusi ini mungkin mendapat atau tidak mendapat keuntungan. Contohnya penyelenggaraan makanan di jasa transportasi, seperti penerbangan, kereta dan bus.
Non-komersial
Institusi yang mengoperasikan penyelenggaraan makanan sendiri dengan tujuan utama sebagai pelayanan dan bukan keuntungan. Contohnya antara lain, rumah sakit, sekolah, penitipan anak (child care), dan panti jompo (senior care).
PERKEMBANGAN
Perkembangan MSPM di Indonesia
· Sekitar tahun 400 masehi, penyelenggaraan makanan massal sederhana untuk pekerja yang mendirikan candi kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.
· Penyediaan makanan untuk pekerja paksa yang bekerja di perkebunan, pembuatan jalan kereta api, jalan raya,ataupun bangunan besar seperti museum dan istana.
· Pada abad ke-17 tercatat ada rumah tahanan, rumah sakit serta panti asuhan.
· Penyelenggaraan makanan yang didasarkan atas kebutuhan karyawan akan zat gizi agar memperoleh tingkat kesehatan yang optimal yang memungkinkan tercapainya kerja maksimal baru dilaksanakan pada awal abad ke-20.
BEBAN KERJA
Pengampu :
Fathimah, MKM
Oleh :
Dina Muslimah Ambotang (35.2014.7.2.0981)
PROGRAM STUDI GIZI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
2016
TUGAS EPIDEMIOLOGI
JARING -JARING EPIDEMIOLOGI
PRASEPTYA GARDIARINI
DISUSUN OLEH :
DINA MUSLIMAH AMBOTANG
PROGRAM STUDI ILMU GIZI
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
NGAWI
2015/1437
2015/1437
hey,,hey annyeonghaseo💁.....
apa kabar chingu??? saudara-saudara byunaa seduni akhirat daaaann seantartika!
akhir-akhir ini byuna sedang sok sibuk buat leaflet nee...
nah tema leaflet yang byuna buat kali ini bertemakan OBESITAS
yok langsuk cekidot ajeee
whaa...ha...ha....
gimana,giman,,,gimana,,,, bagus kaga?? bagus kan???
Tag :// contoh leaflet,
Tag :// leaflet obesitas
PIDATO
OLEH : DINA MUSLIMAH AMBOTANG
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dengan keadaan sehat walafiat. Taklupa juga kita haturkan salawat serta salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang berdasarkan iman dalam islam serta berkembangnya ilmu dan teknologi. Dan semoga limpahan rahmat-Nya akan sampai kepada kita yang masih mengikutu ajara-Nya. Merupakan suatu hal yang sangat membahagiakan bagi saya, karena saya telah diberi kesempatan untuk menyampaikan sebuah pidato tentang bahaya HIV/AIDIS bagi generasi penerus bangsa.
Hadirin yang saya muliakan,
Seperti yang kita ketahui bersama, HIV atau Human Immunodeficiency Virus yaitu virus yang memperlemah kekebalan tubuh manusia. Sedanggkan AIDIS atau Acquired Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala akibat infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV meskipun penanganan yang dilakukan dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar dapat disembuhkan.
Belakangan ini, penyebaran virus HIV/AIDIS sudah meluas secara global di kalangan remaja akibat pergaulan bebas sehingga timbulah keinginan untuk melakukan hubungan seks bebas, penyalah gunakan obat-obatan terlarang, penggunaan jarum suntik yang tudak steril yang dipakai secara bergantian, serta transfuse darah yang tidak terseleksi dengan baik.
Teman-teman sekalian,
Perlu kita ketahui bahwa budaya Barat mempengaruhi tingkah laku para penerus bangsa, mulai dari pakaian yang tidak sesuai dengan norma-norma agama hingga tontonan-tontonan yang tidak mendidik, dan juga karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDIS serta lemahnya tonggak keimanan dalam diri setiap individu untuk menjauhi segala sesuatu yang berbau negative.
Teman-temanku yang berbahagia pada pagi hari ini,
Setelah mengetahui penyebab dan akibat oleh penyebaran virus HIV/AIDIS, saya menghimbau kepada kita semua, khususnya kepada remaja-remaja penerus tongkat estafet perjuangan bangsa ini untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang positif sehingga berguna bagi diri kita meupun khalayak banyak dan dapat menguragi angka penderita HIV/AIDIS bagi para penerus bangsa.
Demikian pidato singkat yang dapat saya sampaikan, dan sebelumnya saya berharap remaja indonesia dapat terhindar dari virus HIV/AIDIS yang dapat merusak masa depan sehingga menjadi tunas-tunas bangsa yang berkompeten dan remaja yang sehat.trimakasih atas perhatiannya,
wassalamualaikum Wr. Wb.
ABSTRAK BUKU
OLEH : DINA MUSLIMAH AMBOTANG
Pengarang : prof. Dr.Dewi Laelatul Badhriah, M.Kes.,AIFO
Penerbit : PT Refika Aditama
Cetakan pertama : Oktober 2011
ISBN : 978-602-8650-53-3
Indonesia memiliki masalah kesehatan yang kompleks. Derajat kesehatan masyarakat indonesia yang tidak mengalami kemajuan yang signifikan, sekalipun telah banyak program perbaikan status kesehatan masyarakat yang digulirkan pemerintah. Tingginya masalah kurang gizi di berbagai daerah dan meningkatnya prafalensi obesitas , terutama di kota-kota besar, merupakan beban ganda masalah gizi di Indonesia
Salah satu penyebab tidak langsung dari kesakitan dan kematian ibu di Indonesia adalah status gizi perempuan yang masih rendah. Tingginya prevalensi anemia pada remaja perempuan dan ibu hamil khususnya, masih rendahnya konsumsi asam folat pada ibu hamil, dan problem-problem gizi lainnya telah terbukti banyak menimbulkan dampak yang merugikan terhadap status kesehatan reproduksi perempuan indonesia.
Buku gizi dalam kesehatan reproduksi ini hadir untuk meningkatkan kompetensi para bidan dan tenaga kesehatan lain dalam memahami dan memberikan pelayanan gizi pada perempuan sesuai dengan daur hidupnya, mulai dari masa intrauterin, masa balita, anak , remaja, dewasa dan lansia.
Buku ini disusun untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa kebidanan, keperawatan, kesehatan masyarakat, dan ilmu gizi itu sendiri dalam hubungannya dengan kesehatan reproduksi. Di dalannya diuraikan tentang kebutuhan gizi pada masa kehamilan, ibu menyusui, kebutuhan gizi pada bayi, anak prasekolah, remaja, serta membahas tentang kebutuhan gizi pada masa dewasa dan lanjut usia
HUBIGAN ANTRA POLA MAKAN, AKTIFITAS FISIK, DAN HIPERTENSI PADA LANSIA
A. Latar Belakang
Penduduk Indonesia pada tahun 2012 mencapai 237,64 juta jiwa. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai populasi terbanyak keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat melihat pola pertumbuhan pola penduduk beberapa tahun sebelumnya, dan penduduk Indonesia diperkirakan 237,65 juta jiwa pada tahun 2025(Dinas kesehatan 2011).
Seiring berjalannya waktu dunia akan berputar, kehidupan manusiapun akan terus berjalan, dari bayi akan menjadi balita, balita akan menjadi anak-anak, anak-anak akan menjadi dewasa dan dewasa akan menjadi lansia. Lansia merupakan fase terakhir yang yang terjadi pada manusia sebelum iya meninggal.
Proses penuaan akan terjadi sejak usia 30 tahun, penuaan terutama akan terlihat pada orang-orang yang hidup dengan kemiskinan, karena kurangnya akses pada kesehatan akan sehingga penampilan akan terlihat lebih tua dibandingkan dengan orang-orang yang menjaga kesehatannya.
Semakin bertambahnya usia maka akan semakin banyak pula penyakit yang diderita seseorang, khususnya pada lansia atau usia lanjut. Pada lansia akan terjadi pengunduran beberapa organ tubuh, oleh karena itu pada lansia mudah sekali terkena hipertensi.
Proses penuaan (aging) secara perlahan-lahan menyebabkan hilannya kemmapuan jaringan untuk memeperbaiki diri dan mempertahankan struktur serta fungsi normalnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan kelemahan organ, kemunduran fisik, dan timbulnya berbagai macam penyakit, termasuk penyakit degenageratif. Penyakit degeneratif yang sering di derita pada usia lanjut diantaranya adalah hipertensi, jantung koroner, stroke, patah tulang, osteo porosis, diabetesmelitus, dan demensia(Departemen kesehatan, 2004)
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolohan hipertens, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas dan hipertensi. Kurang melakukan olahraga akan meningkatkantimbulnya obesitas dan asupan garam bertambah akan memudahkan timbulya hipertensi(Dahlan, 2012).
Penerapan hidup sehat meruakan cara pencegahan utama yang dapat dilakukan untuk menghindari hipertensi dan pada penyandang hipertensi dapat menurunkan tekanan darah hingga mencapai batas normal. Perubahan gaya hidup sehat dapat meliputi penerapan polamakan yang baik, dan pola makan yang baik dapt meliputi penigkatan asupan buah, sayuran, produk-produk susu rendah lemak, mengurangi konsumsi lemak terutama lemak jenuh dan kolesterol, serta mengurangi asupan natrium(Departemen kesehatan, 2004) Pola makan ini dikenal dengan istilah Dietary apporoach to stop Hypertension diet (DASH diet)
Karena hal-hal tersebut diatas membuat peneliti tertarik untuk menelitih apakah ada hubungan antara lansia, olahraga, dan polamakan
B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara hipertensi, olahraga dan pola makan bagi lansia?
C. Tujuan Penelitian
A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara lansia, olahraga, pola makan dan penyakit hipertensi di desa Mantingan Ngawi Jawa Timur Indonesia.
B. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui bagaimana pola makan lansia yang terkena hipertensi.
b. Untuk mengetahui sejauh mana pola pikir lansia di desa Mantingan tentang pentingnya berolahraga khususnya bagi lansia.
C. Manfaat penelitian
a. Manfaat Untuk Institusi Pendidikan (Kampus)
Dapat menambah referensi bagi perpustakaan dan menjadi data awal bagi peneliti selanjutnya
b. Manfaat Untuk Kepala Desa Mantinagan Ngawi
Dapat lebih memperhatikan masalah-masalah kesehatan khususnya masalah hipertensi bagi lansia di desa Mantingan
c. Manfaat Untuk Peneliti
Sebagai penambah ilmu dan pengalaman khususnya untuk masalah-masalah gizi terutama bagi lansia
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Tentang Lansia Dan Penuaan Dini
Lansia (lanjut usia), sering juga disebut dengan usia lanjut (usila) atau manusia lanjut usia (manula). Usia lanjut bukan merupakan suatu penyakit dan kapan persisnya seseorang mulai dikatakan lansia, hingga kini belum ada kesepakatan. Di Indonesia batasan lansia dikaitkan dengan umur mulaipensiun sebagai pegawai negri sangat berfariasi tergantung pada posisi dan jabatannya berkisar antara 55-65 tahun. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas lansia adalah 65 tahun(Ari suryanto, 2002) dan dalam undang –undang no 13 tahun 1998, tentang kesejahteraan lanjut usia, disebutkan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai 60 tahun ke atas(Junaidi, 2010). Jadi kesimpulan yang dapat diambil bahwa seseorang bisa dikatakan lansia setelah berumur 60 tahun ke atas
Penuaan dini adalah proses dari penuaan kulit yang cepat dari seharusnya, banyak orang yang mulai melihat timbulnya kerutan kulit wajah pada usia yang relatif muda, bahkan pada usia awal 20-an, hal ini biasa disebabkan berbagai faktor baik internal
Factor penyebab penuaan dini:
A. Faktor internal
1. Keturunan
2. Kejiwaan
3. Kesehatan
4. Kecerdasan
5. Dada tahan tubuh
B. disebabkan oleh faktor eksternal antara lain meliputi:
1. Sinar matahari
2. Radiakal bebas
3. Kelembapan udara
2. Konsep Tentang Hipertensi
A. Definisi Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sisitoliknya di atas 140 mmHgdan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi sebagai tekanan sisitolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg(Sheps, 2005).
Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Hipertensi merupakan produk dari resistensi pembuluh darah perifer dan kardiak output(Devine, 2012).
Penyakit hipertensi merupakan penyakit kelainan jantung yang ditandai oleh meningkatnya tekanan darah dalam tubuh(Agoes, 2011). Telah diketahui bahwa tekanan darah tinggi adalah penyakit berbahaya, karena dapat mempersingkat masa hidup seseorang dan meningkatnya kemungkinana terkena serangan jantung, stroke, kerusakan fungsi ginjal, dan pembengkakan arteri tersebar ditubuh (Erlangga, 1986)
Hipertensi akan meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Hipertensi pada lansia dapat bersamaan dengan kelainan kardiovaskuler, seperti infrak jantung, stroke, dan kelainan pembuluh darah tepi.
B. Klasifikasi Hipertensi
Dilihat dari penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
a. Hipertensi Primer(hipertensi esensial, hipertensi idiopatik) Hipertensi primer (esensial) Adalah suatu peningkatan persisten tekanan arteri yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik normal(Ariani, 2000), hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya secara pasti tetpi mempunyai faktor resiko yang mempermudah terjadinya hipertensi(.sheps 2005 ).
Factor- factor resiko tersebut adalah:
Keturunana, stres, kegemukan, peminum alcohol, lingkungan, merokok, bertambahnya umur, jenis kelamin, konsumsi garam yang berlebihan, kurang olahraga(Ariani, 2000)
b. Hipertensi Sekunder (penyebab spesifiknya diketahui)
Hipertensi sekunder adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar kedua selain hipertensi esnsial. Hipertensi ini penyebabnya diketahiu(Ariani, 2000).
Penyebabnya adalah:
Penyakit ginjal, kelenjar hormone, penyakit jantung, penyakit pembuluh aorta, penggunaan estrogen, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan(sheps 2005).
Berdasarkan bentuk hipertensi di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan diastolik Hipertensi diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik. Biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi) yaitu peningkatan tekanan darah pada sistol dan diastol.
b. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik. Umumnya ditemukan pada usia lanjut(Barnad, 2002).
C . Gejala Hipertensi
Gejalanya berupa sakit kepala, nyeri atau sesak pada dada, pusing, gangguan tidur, terengah-engah saat beraktifitas, jantung berdebar-debar, mimisan, kebal atau kesemutan, gelisah dan mudah marah, keringat berlebihan, kram otot, badan lesu, pembekakan di bawah mata pada pagi hari(Erlangga, 1986).
Komplikasi jangka panjang tekanan darah tinggi berupa stroke, penyakit ginjal, gagal jantung, penyakit arteri koroner(American society, 2002) Jika bertahun-tahun darah terus-menerus lebih tinggi dari normal, seperti pada kasus hipertensi yang tidak diobati, akan timbul kerusakan pada pembuluh arteri dan organ – organ yang memerlukan pasokan darah terutama jantung, otak, ginjal dan ini merupakan masalah kesehatan(Erlangga, 1986).
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala bila menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan menifestasi yang khas sesuai sistem organ yang difaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma [peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin]. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan(Harsuki, 2003).
3. Konsep Tentang Pengaruh Pola Makan Dan Olahraga Bagi Aansia Yang Terkena Hipertensi
Hipertensi dapat dicegah dengan menghindari faktor penyebab terjadinya hipertensi dengan pengaturan pola makan, gaya hidup yang benar, hindari kopi, merokok dan alkohol, mengurangi konsumsi garam yang berlebihan dan aktivitas yang cukup seperti olahraga yang teratur (Wahyuni, 2003).
Aktivitas fisik kini sudah menjadi kebutuhan masyarakat secara luas. Biasanya mereka melakukan aktifitas untuk menjaga kesehatan tubuhnya, salah satunya dengan cara berolahraga.berolahraga sekarang sangat diminati banyak masyarakat, terbukti dari bertumbuhnyan pusat- pusat olahraga serta dipenuhinya ruang-ruang publik pada hari libur oleh masyapakat melakukan olahraga yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan (American society, 2002).
Olahraga bisa mengurangi resiko hipertensi terutama pada lansia dikarenakan aktifitas akan melebarkan diameter pembuluh darah (vasodilitasi) dan membakar lemak dalam pembuluh darah jantung sehingga aliran darah lancar (Agoes, 2011), inilah sebabnya mengapa para lansia juga sangat membutuhkan olahraga pada masa tuanya.
Secara garis besar pengobatan hipertensi dibagi menjadi dua, yaitu pengobatan non-obat (non-farmakologis) dan pengobatan medis (farmakologis). Secara farmakologis upaya untuk menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat anti-hipertensi. Pengobatan secara non-farmakologis di antaranya dengan melakukan: mengatasi obesitas atau menurunkan kelebihan berat badan, mengurangi asupan garam berlebihan, ciptakan keadaan rileks, berbagai cara relaksasi, seperti syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah, melakukan olahraga, seperti senam dan jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu, berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol yang berlebihan (Dahlan, 2012).
Dietary Approches to Stop Hypertension (DASH) merupakan diet pada penderita hipertensi untuk seumur hidup yang dianjurkan oleh JNC VII dan AHA. Perencanaan makan DASH berperan dalam menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 14-18 mmHg. Tujuan diet DASH adalah untuk mencegah dan memanajemen penyakit hipertensi dengan prinsipnya yaitu kaya akan kalium, magnesium, dan kalsium.
Perencanaan makan diet DASH terdiri dari banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayur- sayuran, susu rendah lemak dan hasil olahnya, serta kacang-kacangan, dan rendah natrium.
Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-60 menit setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan peredaran darah. Bagi penderita tekanan darah tinggi, jantung atau masalah pada peredaran darah, sebaiknya tidak menggunakan beban waktu jalan. Riset di Oregon Health Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5% kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) faktor penting penyebab pergeseran arteri (Ariani, 2000).
Kurang olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu
BAB III
METODE DAN INSTRUMEN PENELITIAN
A. WAKTU
Hari/tgl : Rabu, 24 Desember
Pukul : 08.00
B. TEMPAT
Desa Mantingan
C. SASARAN
Para lansia Desa Mantingan yang terkena hipertensi
D. METODE YANG DIGUNAKAN
Deskriktif
E. ALAT PERAGA
Leaflet dan poster
F. EVALUASI
1. Bentuk evaluasi
2. Jumlah
a. Pre-test :......................................................(54 0rang)
b. Post-test :.....................................................(54 orang)
DAFTAR PUSTAKA
1. Sheps, S. G., 2005. Mayo Clinic Hipertensi. Jakarta: PT Intisari Mediatama
2. Dahlan, M. S. (2012). Statistik untuk kedokteran dan kesehatan: deskriptif, bivariat, dan multivariat, dilengkapi aplikasi dengan menggunakan SPSS. Edisi 5. Cetakan ke-2. Jakarta: Salemba Medika.
3. Junaidi, I. (2010). Hipertensi pengenalan, pencegahan, dan pengobatan. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
4. Divine, G. Jon (2012). Program Olahraga tekanan Darah Tinggi. Klaten : PT Intan Sejati
5. Dinkes (Dinas Kesehatan). (2011). Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 2011. Diakses: 20 November 2012, dari http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/profil/profil20 11/BAB%20IVI%202011.pdf.
6. Depkes R.I., 2004. Sistem Kesehatan Nasional. 2004, Jakarta
7. Ari Suryanto, 2002, Perilaku Makan, Status Gizi dan Kesehatan Wanita Usia Lanjut Di Kelurahan Cakung Timur, Jakarta dan Kelurahan Baranangsiang, Bogor. Skripsi Jurusan GMSK, Faperta, IPB
8. Erlangga, Jakarta Scholl, DE. 1986. Nutrition and Diet Therapy. Medical Economic Company, New Jersey.
9. Ariani, D., 2000. Hubungan Antara Religiusitas Dengan Tingkat Stress Pada Penyandang Cacat Fisik. Skripsi. Program Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
10. Barnad . C, 2002. Kiat Jantung Sehat. Kaifa. Bandung. 44–218.
11. The American Society on Aging. 2002. Live Well, Live Long: Health Promotion and Diseasea for Older Adult. Available on line at www.asaging.org/cdc/module6/phase2/phase2_14.cfm - 1
12. Harsuki. 2003. Perkembangan Olahraga Terkini: Kajian Para Pakar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
.








